Oleh: mgmpkimiabms | 29 Oktober 2009

Tengkurap atau Telentang?

Tengkurap atau Telentang?

Bayi yang tidur tengkurap dianggap lebih kuat jantungnya dan lebih cerdas.
Tapi, itu bisa menyebabkan kematian mendadak. Telentang lebih baik?

"Dulu saya memaksa putri saya, Irma (2 bulan), tidur tengkurap. Dengan
tidur tengkurap, seperti pernah saya baca, akan membuat bayi lebih cerdas,"
kata Ny. Yeanni (28 tahun). Belakangan, ia mendapat informasi bahwa tidur
tengkurap bisa mengakibatkan bayi mati mendadak, atau populer disebut SIDS
//(Sudden Infants' Death Syndrome)//.

Yeanni kini lalu berupaya mengubah posisi tidur bayinya menjadi telentang.
Tapi, "Irma ternyata tidak betah tidur telentang. Ia merengek dan
menggeliat terus. Setelah ditengkurapkan, baru ia tidur nyenyak."
Bagaimana posisi tidur bayi yang baik -- telentang atau tengkurap -- hingga
kini memang masih menjadi bahan perdebatan. Sementara ahli beranggapan,
bayi yang tidur tengkurap jantungnya akan lebih kuat. Otaknya juga lebih
cerdas dibanding bayi yang biasa tidur telentang. Alasan itu membuat banyak
orang tua 'memaksa' bayinya tidur tengkurap di bulan-bulan pertama
kelahirannya, saat si bayi belum bisa tengkurap sendiri.
Sebagian lagi mengatakan, tidur tengkurap dikhawatirkan akan membuat bayi
sulit bernapas jika ia gumoh -- mengeluarkan kembali sebagian ASI yang
diminumnya.
Penelitian universitas di Selandia Baru, Auckland, dan Otago, memang
menemukan bahwa SIDS berpeluang menyerang bayi yang tidur tengkurap. Namun,
setelah  dilakukan otopsi (bedah mayat), penyebab kematian bayi tersebut
tidak jelas. Bayi tampak normal sebelum meninggal. Namun riwayat perinatal
yang terperinci dan pemeriksaan mendalam pada jantung, paru-paru, serta
saraf,  menunjukkan ketidaknormalan.
SIDS biasanya menyerang bayi berusia 2 bulan. Jumlahnya meningkat pada saat
musim infeksi virus yang mengganggu saluran pernapasan (virus
respiratorik). Uniknya, sebagian besar bayi yang terserang SIDS meninggal
sekitar tengah malam sampai pukul 9.00 pagi. Artinya, kebanyakan bayi
terserang SIDS saat mereka tertidur.
Di Eropa dan Amerika, penyebab utama terjadinya SIDS adalah faktor genetik.
Faktor lainnya adalah bayi prematur, berat lahir rendah (di bawah 2.500
gram), dan lingkungan sosial. Meski begitu, American Academy of  Pediatrics
pada tahun 1992 merekomendasikan agar bayi ditidurkan dalam posisi
telentang atau miring.
Dokter spesialis anak Eric dari RSCM Jakarta juga tak setuju jika dikatakan
bahwa SIDS diakibatkan oleh tidur tengkurap. Menurut pengalamannya, di
Australia ada 2-3 kasus SIDS setiap minggu dan penyebabnya belum jelas.
"Bayi tidur tengkurap memang ada untungnya. Bayi jadi lebih aktif,"
katanya.

Telentang atau Tengkurap?

Menurut Dr. dr. Nartono Kadri, Sp.A.K. dari RSCM, di Indonesia data
mengenai SIDS hampir tak ada.  "Sampai saat ini, secara akademis belum ada
kasus SIDS yang terbukti. Jadi tak perlu khawatir  bayi tidur dengan
tengkurap," katanya. Apalagi, sebagian bayi juga lebih suka tidur
tengkurap. Dengan tidur tengkurap, udara dalam perut mudah keluar karena
perut tertekan. Keadaan tersebut akan membuat bayi merasa enak.
Menurut Nartono, bayi usia 0-4 bulan boleh saja ditengkurapkan, dengan
syarat alas tidur bayi harus keras (seperti matras) dan bukan dari bahan
yang empuk (busa). Spreinya pun harus ditarik kuat, jangan sampai ada
lipatan-lipatan, dan tanpa bantal. Ia juga menyarankan agar bayi yang tidur
diawasi cermat. Tapi, katanya, "Tidur tengkurap bukan untuk mencerdaskan
bayi. Kecerdasan itu, kan, kaitannya dengan pendidikan, asah, asih, asuh,
dan lingkungan sosial."
Bayi tidur telentang pun bukan tanpa masalah. Bayi yang terus-menerus tidur
telentang kepalanya akan //peyang//. Selain itu, dengan tidur telentang,
bayi senang memalingkan kepala ke satu arah saja. Hal tersebut akan membuat
sebelah kepala bayi yang masih lunak, menjadi agak datar. Memang, sih, ini
tak membahayakan otak. Namun,  sayang juga kalau kepala anak bentuknya
tidak utuh.
Tidur telentang  juga dikhawatirkan akan membuat muntahan yang mengalir ke
aliran yang menghubungkan tenggorokan dengan telinga. Ini bisa membuat bayi
kesulitan bernapas atau telinganya berpeluang terkena infeksi.
Nartono menyarankan, sebaiknya bayi usia 0-6 bulan tidur sekamar dengan
orang tuanya. Dengan tidur sekamar, pengawasan terhadap bayi lebih
terjamin. Ibu atau ayah akan segera tahu dan menolong si kecil jika ia
mengalami kesulitan bernapas.
Bayi berumur 6 bulan ke atas, umumnya telah dapat tidur dengan aktif. Ia
bisa memilih posisi tidur yang disukai (telentang atau tengkurap).  Jika
tak nyaman dalam posisi tersebut, bisa juga membantunya untuk tidur miring.
Gulung selimut atau handuk untuk menyangga kepalanya agar ia merasa nyaman.
(Ito).
Supaya Bayi Tidur Nyaman

Waktu tidur bayi berubah-ubah. Bayi yang baru lahir umumnya membutuhkan
waktu tidur 16 jam sehari. Setiap 3 jam, biasanya ia terbangun untuk minum
susu. Sesuai perkembangan usianya, pola tidur bayi akan mendekati pola
tidur orang dewasa. Ia akan lebih banyak tidur di malam hari dan bangun di
siang hari, terutama bayi berusia 6 bulan ke atas.
Namun tak sedikit bayi yang tidak bisa menikmati waktu tidurnya dengan
baik. Ia kerap terjaga dan menangis. Keadaan itu tak perlu dicemaskan.
Sebab bisa saja ia tergolong bayi yang tak membutuhkan waktu tidur lama.
Hanya, sebagai orang tua ada baiknya kita memberi sarana buat bayi agar ia
bisa tidur nyaman.

Di bawah ini beberapa sarana:
1. Ayunan
Orang tua kita dulu biasa menidurkan bayi dengan cara mengayun-ayun. Di
pedesaan, bayi diayun dengan kain panjang yang kedua ujungnya diikatkan ke
pintu bagian atas. Dengan cara itu si ibu bisa melakukan pekerjaan dan
sesekali mengayun-ayunkan bayinya.
Kini banyak ayunan dari rotan atau besi dengan model aneka warna. Gerakan
ayunan memang akan membuat bayi merasa  tenang. Ia merasa seperti dalam
rahim ibu. Ia diayun-ayun jika ibu melakukan berbagai kegiatan.

2. Boks atau keranjang
Tidur dalam boks atau keranjang akan membuat bayi -- lagi-lagi -- teringat
dalam rahim. Ruang gerak yang terbatas berguna untuk menciptakan suasana
'meringkuk' seperti dalam rahim. Itu akan membuatnya aman hingga bisa lelap
tertidur. Jika bayi tidur satu tempat tidur dengan orang tua, sebaiknya
beri bantal dan guling di sekelilingnya. Tempat tidur yang luas malah akan
membuat bayi kesepian.

3. Musik dan nyanyian
Cobalah untuk menyanyikan lagu-lagu lembut untuk menidurkan bayi. Jika
merasa suara Anda hanya akan 'mengganggu' si kecil, nyalakan saja radio
atau //tape//. Alunan musik atau lagu akan membuat si kecil terbuai. Saat
di dalam rahim, ia terbiasa mendengar detak jantung ibu yang membuatnya
tenang. Setelah lahir, musik dan nyanyian masih punya efek menenangkan. (id
dari berbagai sumber)



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: